Warung Bebas
HOME SING IN LOG OUT
SELAMAT DATANG DI WITTO BLOG | TEMPAT NONGKRONG PARA BLOGGER | Voucher Bersama - Witto Blog - Tutorial Blog | SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN | MAAF ATAS KE TIDAK NYAMANANNYA

Selasa, 12 April 2011

Miliki 500 Juta Pengguna, Facebook Ternyata Masih Sewa Data Center

Selasa, 12 April 2011
0 komentar
Kenalan Lewat Facebook
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Facebook, jejaring sosial terbesar dunia, tengah membangun data center yang efisien daya untuk mendukung layanannya.

Proyek yang dinamai "Open Compute Project" itu melibatkan beberapa perusahaan besar seperti Hewlett Packard Co, Dell Inc, Advanced Micro Devices, dan Intel Corp.

CEO Facebook Mark Zuckerberg mengatakan, proyek ini menawarkan spesifikasi dan desain komputer yang lebih efisien-daya yang secara khusus diperuntukkan bagi layanan Internet, berbagi secara terbuka dengan perusahaan lain.

"Apa yang kami temukan selama ini, ada banyak perangkat komputer yang tidak sesuai dengan keinginan kami dan aplikasi sosial lainnya," kata Zuckerberg Kamis lalu (7/4) di Palo Alto, California, dikutip Reuters.

Dell akan membuat server sesuai dengan spesifikasi teknisnya dan Synnex Corp akan bertindak sebagai vendor keseluruhan sistem itu. Teknologi itu akan menghidupkan server di pusat data dan membuat Facebook sebagai perusahaan jejaring sosial pertama yang membangun pusat data di Prineville, Oregon.

Sampai sekarang, Facebook masih menyewa data centers untuk infrastrukturnya.

Dengan lebih dari 500 juta pengguna, Facebook adalah jejaring sosial nomor satu di dunia Internet dan akan menantang perusahaan web seperti Google Inc dan Yahoo Inc sebagai tujuan utama orang ber-Internet dan saluran iklan.

Infrastruktur teknis yang menjalankan Website seperti Facebook--dimana 30 miliar foto, video, dan jenis-jenis konten lain dibagikan (shared) oleh pengguna setiap bulan--memainkan peranan kunci dalam kinerja layanan.

Menurut Facebook, server baru itu akan 30 persen lebih efisien dalam penggunaan energi dan berbiaya 24 persen lebih murah untuk menjalankan layanannya.

read more

Batik Fraktal Indonesia Ditaksir Malaysia

Contoh Batik Fraktal buatan Pixel People Project


VIVAnews - Agaknya, upaya negeri jiran Malaysia untuk menjadikan batik sebagai produk andalan negara mereka, tidak main-main.

Buktinya mereka berupaya untuk mempelajari jenis batik baru, batik fraktal yang dikembangkan oleh orang Indonesia.

"Saya memang sempat dihubungi oleh perusahaan swasta dari Malaysia dan mereka menawarkan kerjasama pengembangan batik fraktal di sana," ujar Nancy Margried, Direktur PT Piksel Indonesia (perusahaan yang khusus bergerak di batik fraktal) kepada VIVAnews, Senin 11 April 2011.

Batik fraktal adalah inovasi baru di bidang batik yang memanfaatkan sebuah software yang dapat mengolah rumus matematis untuk menciptakan pola tertentu dalam pembuatan batik.

Menurut Yun Hariadi, orang yang mengembangkan software batik fraktal di Piksel Indonesia, setidaknya ada dua perusahaan swasta dari Malaysia yang berusaha mendekati perusahaan mereka.

Tapi, kata Nancy, mereka tidak tertarik pada tawaran kerjasama tersebut. Sebab, ia khawatir bila tawaran itu disetujui, batik fraktal justru lebih dikenal sebagai produk buatan Malaysia. "Kami katakan kepada mereka, bahwa kami belum memiliki rencana untuk ekspansi ke Malaysia," ujar Nancy.

Nancy mengatakan, sebenarnya tawaran pengembangan batik fraktal di Malaysia disetujui, ia yakin batik fraktal akan cepat berkembang. "Walaupun dukungan pemerintah di sini lebih lambat, kami tetap ingin agar batik fraktal lebih dulu berkembang di sini," kata dia.

Oleh karenanya, pihaknya juga telah mensosialisasikan batik fraktal kepada ratusan pengrajin batik di berbagai sentra kerajinan batik di Indonesia, baik di sentra-sentra batik di Pulau Jawa maupun Sumatra.

Setidaknya mereka telah melakukan pelatihan-pelatihan kepada para UKM batik di daerah Jambi, Pekalongan, Cirebon, hingga Pacitan, bekerja sama dengan Kementrian Ristek.

Mantan Menristek Kusmayanto Kadiman mengenakan batik fraktal

Piksel Indonesia hingga kini menjalin kerjasama dengan sekitar sepuluh UKM batik untuk memproduksi sekitar 50 batik fraktal per bulan yang biasanya dibuat berdasarkan pesanan, baik dari dalam negeri, maupun dari luar negeri.

Tak hanya menjadi pakaian yang kerap dikenakan oleh Presiden SBY dan menteri-menterinya, batik fraktal juga telah tersohor di dunia internasional. Bahkan salah satu produk batik fraktal Piksel Indonesia juga diminati oleh pihak perusahaan Sanyo Jepang.

"Terakhir kita juga mendapat pesanan batik dari tokoh industri games ternama dari Inggris, Ian Livingstone," kata Nancy. Salah satu karya Livingstone yang popular adalah game Tomb Raider yang belakangan difilmkan.

Piksel Indonesia pun berawal dari sebuah proyek riset dan desain bernama Pixel People Project, yang dilakukan oleh Muhammad Lukman, Yun Hariadi, dan Nancy. Mereka mendokumentasikan sekitar 300 motif batik tradisional dari berbagai daerah dan menemukan bahwa batik adalah pola yang memiliki sifat fraktal.

Kemudian, mereka membuat sebuah software yang mampu memproduksi pola-pola dan ornamen batik menggunakan rumus matematika sederhanauntuk memproduksi sebuah batik. Lewat rumus fraktal di software itu, sebuah pola bisa dimodifikasi atau dikombinasikan dengan pola lainnya, sehingga menciptakan pola baru.

Hasil riset mereka yang berjudul 'Batik Fractal, from traditional art to modern complexity' kemudian terpilih untuk dipresentasikan pada ajang Committee of 10th Generative Art International Conference in Politecnico, di Milan Italia.

Belakangan, Unesco menganugerahi penemuan ini dengan penghargaan kategori 'Stamp of Approval' Award of excellence 2008. "Yang jelas batik fraktal bukan sekadar teknologi yang mempermudah orang untuk memproduksi batik, namun juga menciptakan inovasi baru di dunia batik," kata Nancy. (SJ)

read more

Rabu, 30 Maret 2011

Nonton TV Online

Rabu, 30 Maret 2011
0 komentar
Tidak terasa malam semakin larut, mata sudah mulai mengantuk dari 3 jam yang lalu search ke mbak nya google.com buat nyari yang nama nya TV Online. ya ini dari permintaan teman di kantor yang kalau gak ada kerjaan nonton TV Online lebih baikkan, sambil hilangin suntuk saat pekerjaan menumpuk,

Sudah sampai larut banget nih, akhirnya dapat juga nih cara buat nya, dan sekalian aja dibuat blog WITTO TV ONLINE biar untuk TV Online aja gitu ceritanya, karena sudah selesai sekalian di posting disini Witto Blog biar sobat atau teman sekalian mau nonton juga,. di persilahkan...

Mau Pasang Code Script di Blog Sendiri Silahkan Klik Disini Witto TV

Udah dulu ya, udah ngantuk banget, daaaaa
Silahkan Menikmati Tontonannya....




Code Script Witto TV

read more

Selasa, 29 Maret 2011

Video Realita Cinta Dan Rock N Roll

Selasa, 29 Maret 2011
0 komentar
Nugi adalah seorang remaja sekaligus siswa SMU yang baru berusia 17 tahun. Sejak usia 6 tahun, dia telah ditinggal sang ayah ke Amerika menyusul perceraiannya dengan sang ibu (Sandy Harun). Dalam kesehariannya, tak ada yang lebih diminati Nugi selain bermain band dan bertindak semaunya. Hal serupa juga menjadi bagian dari kehidupan sahabat karib yang juga teman sekelas Nugi, Ipang. Tak heran keduanya selalu bersama baik saat bermain band maupun saat tidak bermain band seperti merancang dan mengisi hari-hari dengan kenakalan.

Nugi dan Ipang punya sahabat bernama Sandra (Nadine Chandrawinata), seorang penjaga distro yang cantik dan sering menjadi tempat mereka berdua curhat. Kedekatan mereka tak hanya sekedar dikarenakan kesukaan terhadap musik, juga dilandasi keinginan yang sama untuk menjalani hidup semaunya dan tak mau dibebani banyak persoalan hidup.

Untuk Lanjutnya Tonton sendiri aja ya...

Warung Bebas


read more

Witto TV - Code Script TV Online

Berbagi hiburan di Internet sebuah TV Online menyediakan Channel Nasional Indonesia hadir di Blog anda melalui Situs WITTO TV yang bisa dipasang di Blog anda dengan Channel-Channel sbb : MivoTV1, MivoTV2, MNC TV, INDOSIAR, SCTV, ANTV, GLOBALTV, SPACTOON, METROTV, TV ONE, DAAITV, untuk Embednya silakan CopPas Codenya dan Letak di posting sobat semua, Silahkan Dilihat Hasilnya.

Silahkan Tinggalkan Pesan Anda, tks
Contoh WITTO TV DISINI

<center><iframe frameborder="0" height="900" id="player" marginheight="0" marginwidth="0" name="player" scrolling="no" src="http://witto-tv.blogspot.com/" style="margin: 0px; padding: 0px;" width="620"></iframe><span id="fullpost"></span>
</center>

Semoga Bermanfaat,.

read more

Minggu, 27 Maret 2011

Radiasi Nuklir Tingkat Tinggi Ditemukan

Minggu, 27 Maret 2011
0 komentar

Dampak kerusakan akibat kebocoran pembangkit listrik tenaga listrik (PLTN) Fukushima Daiichi, Jepang, tak kunjung usai. Setelah ancaman tingkat radiasi terus menghantui, kini ditemukan tingkat radiasi sangat tinggi di reaktor unit 2. Jumlah tingkat radiasi mencapai 10 juta kali lipat dari batas ambang normal.

Seperti diberitakan NHK, Tokyo Electric Power Co (Tepco) menjelaskan tingkat radiasi ini mencapai 2,9 miliar becquerels dalam satu kubik centimeter (cm) air di ruang bawah tanah bangunan turbin yang terpasang ke reaktor nomor 2.

Tingkat kontaminasi ini sekitar 1000 kali dibandingkan kebocoran radiasi di ruang bawah tanah reaktor nomor 1 dan 3. Tepco menambahkan material radioaktif terdeteksi termasuk 2,9 miliar becquerels yodium 134, 13 juta becquerels yodium 131, dan 2,3 juta becquerels, masing-masing cesium 134 dan 137.

Material ini dipancarkan sepanjang proses fisi nuklir di inti reaktor. Perusahaan ini memperkirakan air terkontaminasi itu berasal dari inti reaktor rusak, dan mereka tengah mencari tahu bagaimana kebocoran bisa terjadi.

Lulusan University of Tokyo Naoto Sekimura mengatakan kebocoran ini mungkin muncul dari ruang penahan (suppression chamber) reaktor nomor 2. Ruang ini didesain untuk menampung radioaktif dari reaktor.

Kantor berita Asociate Press melaporkan dengan adanya kejadian tersebut, para pekerja berjuang untuk memompa air yang terkontaminasi dari kompleks nuklir di Jepang itu . Level radiasi yang mencapai 10 juta kali lebih tinggi dari biasanya ini membuat pekerja mengukur tingkat radiasi sebelumnya. Meski tidak jelas berapa lama pekerja telah terpapar dengan radioaktif yang tinggi di pabrik Fukushima Daiichi.

Juru bicara Tepco Takashi Kurita mengaku adanya kontaminasi air di keempat reaktor, dan radiasi dalam satu unit reaktor diukur 1.000 millisieverts per jam, empat kali batas aman yang ditetapkan pemerintah.

Penemuan selama tiga hari terakhir ini telah menjadi kemunduran utama dalam misi mengatasi kerusakan pendingin setelah gempa dan tsunami. Krisis nuklir berkepanjangan telah mendorong keprihatian tentang keamanan makanan dan air di Jepang, yang merupakan sumber utama makanan laut untuk beberapa negara. Radiasi telah ditemukan dalam makanan, air laut dan bahkan pasokan air keran di Tokyo.

Menurut NHK, tingkat radiasi tinggi terdeteksi hingga 30 kilo meter dari pembangkit Fukushima. Tingkat radiasi meningkat 40 persen lebih tinggi dibanding batas tahunan untuk masyarakat umum.

Pemerintah Jepang mengatakan data menunjukkan 1,4 millisieverts diambil pada Rabu pagi di Namie Town, barat laut dari pembangkit. Meski begitu, pemerintah belum melakukan himbauan kepada penduduk yang tinggal di luar radius 30 kilo meter dari pembangkit untuk melakukan evakuasi atau tetap tinggal di rumah.

Hasil itu didapat Kementerian Ilmu Pengetahuan setelah membaca laporan monitoring di 10 lokasi di luar radius 30 kilo meter dari pembangkit, menyusul laporan tingkat radiasi relatif tinggi ditemukan di luar daerah tersebut.

Jumlah radiasi yang terdeteksi itu tidak menimbulkan risiko kesehatan. Namun mereka menyarankan warga di daerah untuk tetap waspada terhadap kemungkinan adanya kenaikan tingkat radais. Karena pembangkit listrik tidak mungkin untuk berhenti melepaskan raadiasi dalam waktu depat.

Sementara radiasi tinggi itu memakan korban dua pekerja yang menderita luka bakar pada kakinya setelah menginjak air yang terkontaminasi radioaktif. Juru bicara pemerintah Yukio Edano mendesak Tepco agar lebih transparan. Pemerintah mengungkap serangkaian kesalahan yang dilakukan operator Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Tepco. "Kami mendesak Tepco memberikan informasi kepada pemerintah lebih cepat," kata Edano seperti dilansir dari laman Associated Press.

Juru bicara Badan Keselamatan Industri dan Nuklir (NISA) Hidehiko Nishiyama mengatakan Tepco sudah mengetahui resiko tingginya radiasi di udara pabrik enam hari sebelum kecelakaan dua pekerja itu. Kedua pekerja ini hanya menggunakan sepatu yang hanya menutupi sampai mata kaki. "Tidak cukup tinggi melindungi kaki mereka," tegasnya.

"Terlepas apakah ada kesadaran soal tingginya tingkat radiasi dalam air tergenang, namun ada masalah dalam cara kerja dilaksanakan."

NISA pun memberi peringatan kepada Tepco untuk meningkatkan dan memastikan keselamatan para pekerjanya.

Desakan pemerintah ini muncul di tengah upaya pekerja perusahaan itu menghentikan kebocoran gas dengan memindahkan air terkontaminasi dari unit-unit reaktor. Petugas sudah mencoba menggunakan air laut untuk mendinginkan reaktor. Namun, muncul kekhawatiran bahwa korosi garam akan memperparah kerusakan mesin di dalam unit reaktor. Saat ini Tepco berjibaku tengah menyuntikkan air segar ke dalam unit reaktor, dan mengeluarkan air yang terkontaminasi radioaktif. (SJ)

read more

Facebook Tak Mampu Lindungi Anak-anak?


Penelitian terakhir yang dilakukan oleh lembaga riset The Pew Internet & American Life Project, mengungkapkan fakta yang mengejutkan: 46 persen anak berusia 12 tahun di Amerika Serikat sudah bergabung dalam jejaring sosial.

Selain itu, 73 persen remaja berusia 13 sampai 17 tahun mengaku telah memanfaatkan situs jejaring sosial, termasuk Facebook.

Padahal, belakangan ini telah terjadi tren di mana penjahat dunia maya (cyber criminal) beralih melakukan serangan dari model konvensional, mengirimkan virus via email atau menanam script berbahaya di website. ke metode terkini, yakni dengan melakukan penipuan di situs media sosial.

Pada laporan terakhir, Symantec, perusahaan spesialis keamanan menyebutkan, dari seluruh penipuan yang terjadi di seluruh media sosial yang ada, sebanyak hampir 95 persennya terjadi di dua situs jejaring terkemuka yakni Facebook dan Twitter.

Ironisnya, pengguna anak-anak atau remaja merupakan target yang paling mudah diserang.

Untuk itu, awal bulan ini, Al Franken, anggota parlemen dari partai Demokrat di Minnesota, Amerika Serikat, menuliskan surat protes ke Mark Zuckerberg, Chief Executive Officer Facebook. Ia meminta situs jejaring sosial itu merombak pengaturan keamanannya.

“Saat ini, sekitar 13 juta pengguna berusia di bawah 18 tahun boleh membagikan informasi pribadi mereka seperti layaknya pengguna dewasa,” tulis Franken, seperti dikutip dari Associated Press, 24 Maret 2011.

Pengguna usia muda ini, kata Franken, sangat rentan terhadap penjahat yang memanfaatkan Internet atau khususnya Facebook. “Seharusnya mereka tidak diperkenankan membagikan nomor telepon dan alamat rumah pada siapapun,” ucapnya.

Padahal, angka yang disebut Franken belumlah menggambarkan jumlah pengguna Facebook sebenarnya yang berusia di bawah umur.

Seperti diketahui, pada pasal keempat Statement of Rights and Responsibilities yang dicantumkan Facebook, disebutkan dengan jelas di pasal 1 dan 5 bahwa pengguna tidak boleh memasukkan informasi palsu, membuat akun untuk orang lain tanpa izin, dan tidak boleh menggunakan Facebook jika pengguna berusia di bawah 13 tahun.

Namun, tidak banyak yang bisa dilakukan oleh Facebook dengan metode kebijakan yang digunakan saat ini.

“Ada banyak orang yang berbohong. Banyak yang masih di bawah 13 tahun tetapi ikut mendaftar ke Facebook,” ucap Mozelle Thompson, Chief Privacy Adviser Facebook.

Angka 13 tahun tersebut, kata Thompson, memang merupakan batas usia minimal yang diperkenankan sistem untuk melakukan pendaftaran. “Namun demikian, sistem itu tidaklah sempurna karena tidak ada mekanisme untuk mendeteksi apakah anak-anak melakukan pendaftaran dengan usia palsu,” ucapnya.

Kekhawatiran banyaknya pengguna di bawah umur yang mendaftar dan berinteraksi di jejaring sosial dikeluhkan pula oleh komite keamanan dunia maya parlemen Australia.

Senin, 21 Maret ini mereka telah memanggil, tidak hanya Mozelle Thompson yang mewakili Facebook, parlemen juga memanggil perwakilan Microsoft dan Yahoo untuk dimintai keterangan seputar masalah keamanan terkait Internet.

Dalam pernyataannya, Thompson mengungkapkan, mereka sebenarnya telah berupaya untuk mengurangi jumlah anak-anak berusia di bawah 13 tahun di situs jejaring sosial mereka.

“Kami menghapus hingga 20 ribu pengguna per hari karena mereka telah melanggar kebijakan Facebook seperti menyebarkan spam, konten tidak pantas, dan termasuk juga mereka yang berada di bawah umur,” kata Thompson, yang dikutip oleh Daily Telegraph.

Padahal, dari data Global User Demographics Facebook, dari 629.982.480 juta pengguna Facebook per Maret 2011, tercatat bahwa 20,6 persen berusia 13 sampai 17 tahun.

***

Selain Facebook, jejaring sosial dan situs lain yang populer di kalangan anak-anak juga terus berupaya mengatasi masalah tersebut meski dengan cara yang berbeda.

Sebagai contoh, MySpace, juga mewajibkan penggunanya berusia 13 tahun ke atas. Sayangnya, sama seperti Facebook, ia tidak punya mekanisme untuk melakukan verifikasi terhadap usia pendaftar.

Disney.com memungkinkan anak berusia 13 tahun ke bawah menjelajahi situs itu dan bermain-main di sana. Namun Disney tidak mengumpulkan informasi seputar anak-anak tersebut kecuali mereka melakukan pendaftaran, misalnya untuk mengikuti lomba, dan sebagainya.

Saat pendaftaran, anak-anak diminta untuk mengisikan alamat email orang tuanya agar mereka mendapatkan notifikasi. Namun Disney tidak mengumpulkan informasi lain di luar itu.

Langkah serupa diambil oleh Yahoo. Mereka tidak memperkenankan anak berusia 12 tahun ke bawah melakukan pendaftaran tanpa sepengetahuan orang tuanya. Setelah itu, sama seperti Disney, Yahoo membatasi informasi apa yang digunakan untuk berpartisipasi dalam kompetisi atau fitur interaktif serupa lainnya. Apakah Facebook perlu menerapkan hal serupa?

read more

Sabtu, 26 Maret 2011

Japan Faces Its Next Chore: Cleaning Up

Sabtu, 26 Maret 2011
0 komentar


Do you start by carting away the Chokai Maru, the 150-foot (45-meter) ship that was lifted over a pier and slammed into a house in this port town? Do you start with the thousands of destroyed cars scattered like discarded toys in the city of Sendai? With the broken windows and the doorless refrigerators and the endless remnants of so many lives that clutter the canals?

In the first days after a tsunami slammed into Japan's northeast coast on March 11, killing well over 10,000 people, it seemed callous to worry about the cleanup. The filth paled beside the tragedy. Now, nearly two weeks later, hundreds of communities are finally turning to the monumental task ahead.

The legacy of Hurricane Katrina, which devastated the American city of New Orleans in 2005, gives an idea of both the immensity of the job and the environmental hazards Japan could face for years to come.

"In Katrina, you had debris that had seawater, sewage, chemicals, gasoline, oil, that was all mixed together in a toxic soup," said David McEntire, a disaster expert at the University of North Texas. "And you're going to have similar problems with the disaster in Japan."

Three years after Katrina, which spawned enough debris to cover Britain, the U.S. government said that New Orleans had not even come close to cleaning up.

The mess looks endless in Japan, and hauling it away seems unimaginable. The cost? No one really knows, though the crisis is emerging as the world's most expensive natural disaster on record, with Japanese officials saying losses could total up to 25 trillion yen ($309 billion). The World Bank says reconstruction could take five years.

So there's nothing to do but start.

Mayumi Hatanaka began with the knee-high mud that had flooded into her little seafood restaurant in the small seaside city of Shiogama.

"It's been four days, and we've been working, working," she said, standing beneath a sign that promised food "Straight From The Fishery To You."

She and her daughter were scraping the muck down their driveway and into the street. The thick, dark goo looked almost volcanic. Workers hired by the city used a gargantuan truck-mounted vacuum, normally used for well-drilling, to hose it up. The noise of the pump and the sucking splutter of the hose nearly drowned out her voice, and she had to shout to be heard.

Simply carving out an aisle in the restaurant took three days, Hatanaka said, so she has no idea when she'll be able to reopen. "I think we'll never finish," she said, only briefly willing to set aside her shovel before getting back to work.

Much of the official cleanup effort so far has been to support rescue teams. Soldiers and city crews have cleared streets of debris so rescuers can get through, and some buildings have been pulled apart in search of survivors.

Now, with little chance left of finding anyone still alive, the concern is to avoid accidentally clearing away corpses with the debris.

Takashi Takayama is a city official in Higashimatsushima, a port town brutalized by the tsunami, leaving nearly 700 people dead. He said the city, where the Chokai Maru ship was thrown ashore, is still cleaning up - and footing the bill - from a major earthquake in 2003.

"I don't know how long it will take," he said. "The last time it was just parts of houses that were destroyed. Now it's the whole house. So I don't know how we'll do it."

With city workers desperately overworked, officials turned to a local association of construction companies to help. Those private contractors helped clear the roads and have started piling up debris in small hills, soon to be small mountains, on city land near the port.

Japan is a country where separating trash into its various components is almost sacrosanct: There are the burnables, the food items, the array of different recyclables. Takayama is already dreading the arguments when disaster-weary residents refuse to categorize their garbage properly.

"Sorting everything out will be the first challenge," he said.

A 2004 tsunami, which killed 230,000 people in 14 Asian and African countries, left thousands of cities and towns facing a task similar to Japan's today.

In Indonesia, the United Nations employed 400,000 workers to clear 1.3 million cubic yards (1 million cubic meters) of debris just from the urban areas of the hard-hit city of Banda Aceh.

Many of the countries affected by that disaster were less developed than Japan and lacked sophisticated waste disposal systems. In the initial cleanups, some burned debris in the open air, dumped it in makeshift landfills and used other environmentally risky methods, polluting wells, inland waterways and the nearby seas.

Japan will presumably use state-of-the-art incinerators and sanitary landfills, though technological prowess doesn't guarantee there won't be problems. In the United States, there were allegations of corruption by cleanup companies after Hurricane Katrina, including claims that hazardous debris was improperly dumped in landfills.

read more

Tablet PC Makin Menjamur, Wi-Fi Makin Terbebani

Tablet PC

Ledakan smartphone dan tablet membuat jaringan komputer Wi-Fi suatu negara makin terbebani. Terlebih, tahun ini diperkirakan 24 juta iPad 2 terjual.

Sejumlah tablet ini menjaga agar warga tetap mendapat informasi dan terhibur. “Saya rasa semua orang mencari perangkat yang tepat agar terhubung tiap saat,” ungkap editor eksekutif CNET Molly Wood.

Namun para ahli mengatakan, tak seperti pada jaringan ponsel, banyak hot spot Wi-Fi di lokasi seperti kafé dan bandara hanya mampu mengatasi sejumlah pengguna saja dalam satu waktu.

Seiring makin banyak orang online, kemacetan nirkabel pun tak terhindarkan. Pasalnya, semua orang berusaha menggunakan jalan yang sama bersamaan. Masalah ini dihadapi CEO Apple Steve Jobs tahun lalu ketika banyak pengguna Wi-Fi menghalanginya memperagakan fitur terbaru iPhone 4.

“Semua perusahaan teknologi mulai menyodori gadget nirkabel. Kita butuh infrastruktur untuk mendukung penggunaan gadget itu,” kata analis teknologi Larry Magid.

Tablet buatan Apple, Motorola, Samsung dan lainnya menggunakan banyak bandwidth.

Bandwidth sangat terbatas dan bergantung pada akses internet dari jaringan rumah, hotel, restoran, pusat kesehatan dan sekolah. Namun kebanyakan jaringan Wi-Fi dibangun untuk jumlah sedikit laptop.

Beberapa perusahaan mulai mengembangkan solusinya, seperti Ruckus Wireless dengan ‘antena cerdasnya’. Antena ini dirancang untuk meningkatkan kehandalan jaringan dan membantu pengguna menjaga koneksi ketika tablet lain juga menggunakan jaringan Wi-Fi yang sama. Diharapkan lebih banyak solusi akan muncul ke depannya. [mor]

read more

Jumat, 25 Maret 2011

Micro Air Vehicles (MAVs) Cocok Untuk Komunikasi Saat Bencana

Jumat, 25 Maret 2011
0 komentar
Jepang Setelah Gempa

Semua hal lumpuh saat bencana terjadi, termasuk sistem komunikasi. Padahal, untuk membangun jaringan komunikasi di area bencana sering kali makan waktu, dan itu berakibat fatal, menghambat kerja tim penyelamat untuk menyelamatkan banyak nyawa.

Namun, sistem terbaru berupa robot yang bisa terbang secara otonom kini sedang dikembangkan oleh Federal Institute of Technology in Lausanne (EPFL). Robot terbang ini bisa membentuk jaringan darurat nirkabel yang lebih cepat, lebih bisa diandalkan, dan lebih terjangkau.

Robot ini bagian dari Swarming Micro Air Vehicle Network (SMAVNET) atau proyek riset Laboratory of Intelligent Systems (LIS) EPFL yang bertujuan mempelajari kecerdasan binatang, meniru dan perilaku kolektif koloni binatang atau serangga. "Tujuannya, untuk menciptakan sebuah sistem yang dapat diterapkan dalam skrenario bencana," kata ilmuwan riset LIS, Jean-Christophe Zufferey seperti dimuat CNN.

"Kami memulai penelitian di EPFL pada robot yang terispirasi biologi pada tahun 2001, mulai dari robot serangga yang bisa menghindar dari kemungkinan menubruk dinding atau tanah. Setelah sukses, kami melangkah maju dengan melakukan penelitian di luar ruangan."

Lantas, hal itu mengawali pembuatan "flying wing" atau "sayap terbang" -- satu dari 10 perangkat yang diterbangkan secara bersamaan -- sebagai bagian dari proyek SMAVNET.

Sayap-sayap terbang itu dibuat dari busa plastik ringan bertenaga baterai lithium di motor belakangnya. Micro Air Vehicles (MAVs) -- demikian ia dinamakan, diluncurkan seperti Frisbee. Lihat video demonstrasinya di sini.

Setelah mengudara, sistem autopilot akan mengontrol ketinggian, kecepatan, dan laju beloknya. Di saat yang sama MAVs menghindari tabrakan udara dengan berkomunikasi satu sama lain melalui sensor aliran optik.

Sensor yang dipasang di depan setiap MAV, memungkinkan untuk mendeteksi jarak antara obyek dan berubah arah jika mereka terlalu dekat satu sama lain. Inspirasinya berasal dari kerumunan semut yang berjalan beriringan dari sarang mereka ke sumber makanan. "Sensor mirip dengan yang ditemukan di sebuah mouse komputer - mereka benar-benar detektor optik bagus," kata Zufferey.

Data final untuk proyek SMAVNET saat ini sedang dikumpulkan sebelum peneliti LIS memulai sebuah proyek tindak lanjut yang disebut "Swarmix"-- yang akan mengeksplorasi bagaimana kawanan robot dapat digunakan untuk membantu penanganan di daerah bencana.

Idenya, kelompok MAVs yang diterbangkan bersamaan akan dilengkapi dengan modul nirkabel kecil untuk membentuk sebuah jaringan ad-hoc yang bisa digunakan tim penyelamat untuk berkomunikasi.

Robot terbang kecil memiliki keunggulan daripada perangkat jaringan di atas tanah. Setidaknya, medan pasca bencana yang sulit tak lagi jadi halangan. Alat ini juga tak tergantung sensor yang mahal atau peralatan lahar.

Namun, alat ini belum sempurna. Perlu sejumlah modifikasi. Masalah yang paling kentara adalah daya tahan - MAVs yang berukuran kecil hanya mampu bertahan di udara selama 30 sampai 60 menit. Energi surya sedang dipertimbangkan untuk memecahkan masalah ini.

Sebaliknya, ada keuntungan dari ukuran pesawat yang kecil -- yang beratnya sekitar 420 gram, yakni tidak akan menyebabkan kerusakan jika menabrak sesuatu atau orang.

Tak hanya menyediakan jaringan komunikasi saat bencana, pesawat ini juga bisa digunakan dalam berbagai misi; foto udara, pemetaan 2D dan 3D, juga untuk pemantauan lingkungan.

Kapan produk ini bisa dipasarkan? Kata Zufferey, tunggu hingga dua sampai empat tahun mendatang.

read more

LIBYA CONFLICT: Nato Takes Over Libya No-Fly Zone


Nato has agreed to take command of enforcing the no-fly zone over Libya from the US.

But Secretary General Anders Fogh Rasmussen made clear that other aspects of the operation would remain in the hands of the current coalition for now.

Nato has been locked in dispute about whether to take charge of the mission to enforce a UN resolution.

It is believed there are differences of opinion whether attacks on ground troops should form part of the action.

Coalition raids on Libya are meanwhile continuing for a sixth consecutive night.

Mr Rasmussen has insisted there is no split on the military handover, saying Nato is still considering whether to take on the "broader responsibility".

The handover of the no-fly mission could come as early as this weekend.

Mr Rasmussen said all Nato members had agreed to the move, including Turkey, which had expressed doubts over strikes on a fellow Muslim country.

"The fact is that in Nato we take all decisions by consensus and the decision we are taking today to enforce a no fly zone is also taken by a consensus which means that all 28 allies support that decision," he told the BBC.

US Secretary of State Hillary Clinton welcomed Nato's decision to take command of the no-fly zone operation.

The US initially agreed to lead enforcement of the UN resolution, but made clear it wanted only a limited role and would hand over responsibility as soon as possible.

But the handover to Nato became bogged down when Turkey made clear its view that action should focus directly on enforcing the no-fly zone and arms embargo, rather than allowing any continuing strikes against ground forces.

The resolution authorises the international community to use "all necessary means" to protect Libyan civilians, but the phrase has become open to different interpretations.

Further discussions are being held about command of action beyond strictly enforcing the no-fly zone.

Nato ambassadors are now said to be discussing a plan which would see Nato in charge of all military aspects of the action against Libya, says the BBC's Matthew Price in Brussels.

The entire operation would be overseen by a council of ambassadors and ministers from Nato countries, and importantly, Arab states which support the action, our correspondent understands.

But it is not clear what power such a council would have and whether it could veto particular military missions, our correspondent adds.

'Stop fighting'

Earlier, French officials confirmed they had destroyed a Libyan military plane which had flown in breach of the no-fly zone. The G-2/Galeb, a training plane with a single engine, had just landed when it was hit by a missile fired by a Rafale jet, a spokesman said.

It was the first such incident of its kind since the operation began.

In the US, Vice-Admiral Bill Gortney told a Pentagon briefing that a total of 350 aircraft were now involved in the operation in some way, about half of them American.

A total of 38 ships were participating in a naval blockade, he said, 12 of them from the US.

He insisted that ground forces would continue to be attacked as long as they posed a threat to Libyan civilians.

"Our message to the regime troops is simple - stop fighting... stop obeying Gaddafi's orders," he said.

As the bombing raids were resumed on Thursday night, Libyan state television reported that targets in Tripoli and Tajoura had been hit.

Fresh fighting has meanwhile been reported in Misrata, scene of a bitter battle for control which has lasted for many days.

One doctor quoted by the AFP news agency said pro-Gaddafi forces had killed more than 100 people and injured 1,300 in the past week.

Further east in the strategically important city of Ajdabiya, residents described shelling, gunfire and houses on fire. One report said rebels were moving closer to the city but remained out-gunned by pro-Gaddafi forces.

In the main eastern city of Benghazi, rebel spokesman Mustafa Gheriani told the BBC that 17,000 fighters had set out from the city to join the battle to the west.

Although he admitted that the rebel forces were on a "learning curve", he insisted that they all knew how to operate their weapons and were committed.

"We will slowly advance," he said. "[Gaddafi's forces] have no reason to fight, no cause, while we do.

"We have given so much blood and we're willing to give some more if we have to."

The International Criminal Court's prosecutor, Luis Moreno-Ocampo, has said he is "100% certain" that charges of crimes against humanity will be brought against Col Gaddafi's regime.

An initial inquiry should end in May, he said, and a second case might follow to investigate more recent attacks on civilians.

read more

Prev Prev Home
 

Follow

Buku Tamu No Link